April 29, 2013

Setengah lusin

Gue sama abang emang ga bisa ngomong serius, sekalinya serius, ujung-ujungnya pasti ngegombal ato balik lagi becandaan. Kaya tadi malem, jadi nih sehabis misa, gue sempet ngebahas homili digereja, eh ya homili itu maksudnya khotbah pastor. Tadi malem pastornya adalah pastor tamu dari seminari Wacana Bakti. Dan bisa dipastikan homilinya pasti tentang panggilan menjadi pastor.

Belom kelar misa aja (pas pengumuman gereja) gue sama abang udah ngebahas soal ini.
Setengah berbisik gue nanya ke abang..

Gue : Nanti kalo anaknya mau jadi pastor, dibolehin ga
Abang : Boleh dong
Gue : Berarti anaknya ga boleh 1 yah
Abang : Iya dong, nanti kita bikin 6 (pake jari)
Gue : Haah enam..?

obrolan pending karna udah mau penerimaan berkat
Keluar gereja gue tanya lagi sama abang

Gue : Jadi anak kita enam nih yang..
Abang : Iya sayang, ga papa kan
Gue : Kok banyak bener..
Abang : Hehehe... i love u..
Gue : Dih ga nyambung deh.. i love u too

pending lagi karna lagi disekretariat minta jadwal liturgi
Dijalan gue lanjut lagi obrolannya

Gue : ih serius nih kamu anaknya mau 6
Abang : Iya
Gue : kenapa harus enam
Abang : kan yang 2 nanti membiara, satu jadi pastor dan satunya lagi jadi suster (biarawati)
Gue : lah terus yang empat jadi apa..?
Abang : 1 jadi dokter, biar kalo ada yang sakit bisa langsung dia yang nanganin, trus 1 lagi jadi angkatan, terserah mau angkatan apa biar urusan apa-apa gampang, trus yang satu lagi pengacara ato bagian hukum deh gitu.
Gue : waaahh... biaya sekolahnya mahal dong itu
Abang : pasti ada jalanlah
Gue : trus anak yang 1 lagi jadi apa
Abang : jadi jagoan
Gue : eehh kok jagoan, maksudnya jagoan apa
Abang : jagoan buat ngelindungin sodara-sodaranya, terserah dia mau jadi apa, yang penting kalo sodaranya kenapa-napa dia yang ngebelain, pokoknya jiwanya harus jagoan.
Gue : kalo gitu namanya rambo dong
Abang : emang ga ada nama lain apa
Gue : mikael aja kalo gitu, soalnya kan dia pemimpin bala tentara surga, pasti jagoan abis kan.
Abang : boleh juga tuh ---- hening------ eh kok aku kangen kamu yah
Gue : aaah kamu tuh, bisa aja
Abang : bener..
Gue : sama dong
Abang : duh nikah masih lama yaaa...
Gue : ahahaha... kebiasaan nih kamu.. sabaaaarrrrr....

Dan sisa perjalanan ditempuh dengan senyum-senyum kangen dan hati yang berdesir..

Ah abang... semoga kita bisa terus begini yah.. meski anak kita sudah enam. Eeerrr enam yah... enam...???? wwhhhuaduuuhhh....

April 26, 2013

Hari ke 3 Kpp (Pendalaman materi)

Hari minggu kemaren gue sama abang masih berkutat urusan kpp (Kursus Persiapan Perkawinan). Kali ini cuman 3 jam ajah, dari jam 9 sampe jam 12. Tapi kali ini digereja yang berbeda, tadinya sih gue daftar digereja gue, eh ternyata yang daftar disitu cuma 5 pasang. Peraturannya minimal ada 7 pasang, dan karena digereja matraman yang daftar cuma 6 pasang, jadilah kita digabung disitu.

Trus kemaren minggu pendalaman materi, ga banyak juga yang dikasih, karna toh isinya juga itu-itu aja, sama kaya minggu kemarennya. Trus pas selesai langsung dikasih deh sertifikatnya. Akhirnyaa.. setelah berjuang 2 hari digojlok sama materi pernikahan, lulus juga kita.

Tinggal kanonik nih yang belom, ngajuin kesekretariat gereja juga bloman, nanti kali ya.. masih males *dasaaarr*.


April 19, 2013

Panggilan Menjadi Orang Tua

Hidup Berkeluarga Merupakan Panggilan Dari Tuhan (Kej 2:18-24)
Yang dimaksud panggilan disini bukan berupa cara memanggil  seperti ayah-bunda atau bapak-ibu. Tapi maksudnya adalah panggilan hidup. Tuhan memanggil setiap orang sesuai dengan talenta masing-masing. Ada yang dipanggil untuk menjadi biarawan-biarawati dan ada yang terpanggil untuk berkeluarga dan untuk menjadi orangtua bagi anak-anak.

Memasuki Hidup Berkeluarga Dimulai Dengan Janji Setia Didepan Altar Dengan Kehendak Bebas (Mrk 10:6-9)
  • Cinta. Berkeluarga dimulai dari proses perkenalan antara laki-laki dan perempuan dalam kesetaraan. Selanjutnya saling jatuh cinta; dan setelah saling ada kecocokan diantara mereka, kemudian memutuskan untuk menikah dengan segala konsekuensinya.
  • Janji Setia. Dalam tata-cara GK, pasangan tersebut akan saling berjanji setia didepan Altar Suci. Dengan saling mengasihi dalam untung dan malang, dalam suka dan duka sampai ajal menjemput salah satu dari mereka.
Dalam Pendidikan, Orangtua dan Anak Adalah Sama-sama Subyek
  • Kasih Sayang. Dalam pendidikan, hubungan keduanya adalah subyek dengan subyek, bukan subyek dengan obyek; dalam semangat kasih sayang
  • Kebutuhan Anak. Karenanya orang-tua hendaknya tetap juga memerhatikan dan mau memahami kebutuhan anaknya.
Modalnya adalah iman dan cinta.

Pendidikan Iman Dalam Keluarga
Yang dimaksud iman disini adalah jawaban manusia atas pewahyuan Allah dalam diri Yesus Kristus. Percaya kepada Allah yang mewahyukan DIRI-NYA dalam rupa manusia yaitu Yesus Kristus.
Dalam perbuatan nyata : Orang tua mengenalkan anak-anaknya kepada Allah, dengan perbuatan nyata (Ibr 11:1-3) 
  1. Iman tidak identik dengan agama. Iman tidak sama dengan agama
  2. Iman tumbuh berkembang dalam kenyataan hidup
  3. Pengalaman iman memerlukan pengalaman cinta ditengah keluarga
Mencintai Pasangan Sebagai Proses Beriman

a. Proses menerima "pasangan sebagai anugerah" :
Menerima :  Proses menerima diri sendiri dan menerima orang lain.
Anugerah : Tidak ada yang "kebetulan", melainkan pasangan adalah orang spesial yang dianugerahkan Allah (Kej 2:21-23)
Unik : Manusia adalah unik dan tidak ada yang sama karena unik-nya

b. Proses menerima "anak sebagai anugerah"
Apa adanya : Siapapun dan bagaimanapun adanya mereka
Rahmat : Mereka bukanlah kebetulan tetapi sungguh rahmat. Kita wajib mencintai dengan segala keberadaan mereka. Anak laki-laki atau perempuan sama saja, tiap anak memiliki ciri-ciri khusus.
Tanggungjawab : Anak berhak mendapatkan cinta orangtua dan orangtua wajib membesarkannya dengan penuh tanggung-jawab.

c. Proses mencintai pasangan dan bersama pasangan mencintai anak-anak secara utuh : (Mat 22:37-40)
Kelebihan/kekurangan : Mampu menerima dan mengakui kekuatan dan kelemahan, kelebihan dan kekurangan mereka masing-masing
Adil : Orangtua hendaknya memerlakukan mereka secara adil, tidak pilih kasih. Tidak ada anak yang menyebabkan kesialan bagi orangtua.
Kewajiban sama : Orangtua memunyai kewajiban sama untuk mendidik dan membesarkan anak-anaknya. Tanggung-jawab itu tidak berada pada satu pihak saja. Yang membedakan adalah waktu yang tersedia oleh karena kepadatan kegiatan mereka sebagai orang-tua.
Menyediakan waktu : Hendaknya tersedia waktu orangtua bersama-sama dengan anak-anak untuk acara keluarga, maupun acara Gereja.

Peran Orangtua  : Menjadi Pasangan Bagi Anak
  1. Sebagai pemberi dan penyedia wahana
    • Tempat Sosialisasi : Keluarga adalah tempat sosialisasi dan tempat pendidikan iman serta pelatihannya, yang pertama dan terutama
    • Tempat Berkonsultasi : Anak dapat berkonsultasi dan mencurahkan isi hatinya
  2. Mendampingi dan menyertai (sebagai motivator)
    • Tempat Berlatih : Keluarga adalah sekolah; tempat bapak-ibu-anak berlatih mengikuti Yesus untuk menjadi muridNya (Ulangan 6:4-9)
    • Gereja Mini : Keluarga sebagai Gereja mini, tempat relasi kasih dan iman kepada Kristus yang menjadi dasar hidup
  3. Sebagai model, sahabat dan guru
    • Saling mengasihi : Keluarga merupakan tempat untuk saling mengasihi, saling mengasuh dan saling mengasah
    • Terpercaya : Orangtua adalah sahabat yang terpercaya bagi anak, tempat untuk berbagi rasa suka dan duka
    • Nilai Luhur : Orangtua adalah guru, pengajar nilai-nilai kehidupan yang luhur (Amsal 3:1-26)
      • Tumbuhkan kebiasaan anak untuk berdoa sendiri dan bersama
      • Tumbuhkan kebiasaan orangtua memberkati atau mendoakan anak
    • Meneruskan iman : Orangtua adalah mitra gereja dalam meneruskan iman Kristiani dari generasi ke generasi
Model Pendidikan Iman Dalam Keluarga
Dasar pendidikan iman dalam keluarga adalah kasih (1 Korintus 13:4-7)

1. Dengan kata-kata
Menyapa dengan kehangatan dan mengungkapan pujian, dalam hal melarang gunakanlah kata-kata yang santun. Kata-kata memunyai kekuatan yang besar, baik untuk hal-hal positif maupun hal-hal negatif.

2. Dengan latihan dan kedisiplinan
  • Melatih anak-anak sejak dini untuk berdoa secara teratur
  • Anak-anak juga perlu dilatih untuk belajar tanggung-jawab; jangan biarkan menjadi manja atau semena-mena
    • contoh : diberi tugas rumah, belajar menolong sesama, memilih bagi mereka hiburan, tontonan dan bacaan yang sesuai
3. Dengan teladan orangtua
  • Orangtua hendaknya menjadi model dan contoh kebanggaan bagi anak, bukan hanya atas kesuksesan materi saja melainkan terutama atas keimanannya kepada Tuhan Allah
  • Meneladani anak-anaknya dengan sikap dan perbuatan baik; bagaimana bersikap kepada saudara, kepada teman, bahkan kepada musuh
  • Contoh perilaku harus konsisten, jangan sekali-kali saja.
4. Dengan kesaksian hidup keagamaan yang dijalani oleh orangtua
Bila orangtua menyadari untuk selalu mengikut sertakan Allah dalam setiap kegiatan mereka, maka anak-anak pun menjadi biasa :
  • berdoa pagi/malam/makan/bersyukur
  • mengikuti Misa pada hari minggu dan hari besar

Keluarga adalah sekolah hidup. Tumbuh kembangnya anak-anak sangat tergantung pasangan S-I secara bersama-sama.
Masyarakat melihat keberhasilan keluarga dari bagaimana keluarga itu bersama tumbuh berkembang, saling mencintai, dan selalu menghadirkan Tuhan.
Keluarga adalah Gereja Kecil, atau disebut Gereja basis. Termasuk pula keluarga adalah sumber lahirnya panggilan untuk pelayanan

April 16, 2013

Komunikasi Suami Istri

Narasumber kali ini adalah sepasang suami istri yang sudah menikah 11 tahun. 4 tahun pacaran dan ketemuan setiap hari tidak menjamin langgengnya rumah tangga. Ternyata hanya dalam waktu 2 tahun saja pasangan ini sudah merasakan pahitnya pernikahan.
Dimulai dari lahirnya sang buah hati, istri menjadi sangat kerepotan membagi waktu antara anak dan mengurus rumah. Jadinya rumah selalu berantakan dan membuat suami merasa tidak nyaman. Akibat dari ketidaknyamanan ini adalah timbul keinginan untuk keluar dari rumah sesering mungkin.
Karena suami hobinya baca buku, alhasil setiap malam selalu pergi ketoko buku hanya sekedar membaca saja, dan tentunya pulang kerumah sudah larut.

Kondisi demikian membuat istri menjadi merasa tidak diperhatikan, mulailah sering marah-marah, perhatian untuk suami makin berkurang, dan rumah rasanya bagai api, karena panas terus tiap hari.
Makin lama mereka makin tidak betah akan kondisi ini, beruntung mereka masih aktif dalam kegiatan gereja dan sering mengisi koor untuk perkawinan. Jadi lebih sering mendengar homili pastor tentang pernikahan, lama-lama ada kesadaran dari mereka dan akhirnya menerapkan apa yang dikatakan oleh pastor, hasil terakhir.. tentunya terselamatkanlah pernikahan mereka.

Setiap perkawinan pasti akan ada siklus ini, yaitu

Masa romantis: Masa-masa ini biasanya ada diawal-awal pernikahan

Masa sulit/kekecewaan: Masa ini akan terlewati apabila dasar keputusan kuat adanya yang diupayakan secara terus menerus. Kuncinya adalah kemauan dan keberanian kita untuk bangkit kembali. Dasar keputusan meliputi; seumur hidup: tak terceraikan (Matius 19:6) monogami, Cinta kasih (Effesus 5:22-23)
  • Dalam masa ini janganlah kita merasa masalah kita yang paling besar, tentunya kita harus sadar bahwa setiap masalah akan ada penyelesaiannya (1 Korintus 10:13)
  • Makin rajin berkomunikasi dan saling menerima kritikan, terbuka dan saling mendengar
  • Harusnya kita melihat kelebihan pasangan, bukannya kekurangan
  • Intropeksi diri sendiri
  • Buat tulisan akan keluhan dan kemauan masing-masing 
  • Dan selalu ingat, apa yang disatukan Tuhan jangan dirusak oleh manusia

Masa Bangkit Kembali: Dengan kemauan dan keberanian untuk saling bertobat dan  saling mengampuni,  menyebabkan perkawinan bisa bertahan.

Soal KOMUNIKASI

  • Komunikasi Verbal; segi pertama tingkat perasaan. Pilihan kata, intonasi bicara, kecepatan dan nada bicara mencerminkan perasaan.
  • Komunikasi Non-Verbal; bahasa tubuh dan ekspresi wajah mencerminkan perasaan dan pikiran. Tingkat komunikasi pada relasi pasangan, menjadi dasar relasi pikiran atau pandangan.

  • Tingkatan Komunikasi Verbal; basa-basa, membicarakan orang lain atau keadaan (ngegosip). Menyatakan gagasan dan pendapat (diskusi, rapat). Saling berbagi perasaan/dialog perasaan.

  • Puncak Komunikasi S-I; yaitu relasi seksual, baik dalam persetubuhan maupun dalam kemesraan fisik lainnya. Hal-hal kecil yang biasanya tidak menimbulkan masalah bisa menyebabkan terhentinya relasi seksual dan menjadi konflik/pertengkaran. Jadi ada pesan dari pembicara, bilamana ada masalah yang sulit untuk dipecahkan, bicarakanlah setelah hubungan puncak, karena konon katanya, otak dalam posisi lega dan mampu menyerap banyak informasi (dengan catatan hubungan puncaknya sama-sama menyenangkan)
Kunci kebahagiaan adalah relasi yang baik. Kunci relasi yang baik adalah komunikasi yang baik. Komunikasi yang baik adalah komunikasi sampai tingkat perasaan.
Kita disebut mengenal pasangan kalau mengenal isi hatinya. Kesulitan atau perselisihan  banyak disebabkan dari perasaan yang terpendam, oleh karna itu komunikasi adalah kunci memecahkan perselisihan. Komunikasi akan terjadi bila satu sebagai pembicara dan satu atau beberapa orang sebagai pendengar.
Bagaimana menjadi pendengar yang baik..?

  • Beri perhatian tanpa perasaan curiga, singkirkan apa yang melintas dibenak kita. hargai sudut pandangnya. Kisahkan kembali dan tanyakan yang kurang paham.
  • Jangan potong ceritanya. Singkirkan keinginan kita untuk menanggapi. Hindari keinginan untuk menjadi PEMBICARA. Perhatian non-stop, dan tanyakan perkembangannya.
Mewaspadai Masalah dan Solusinya

Relasi kurang baik apabila komunikasi tidak bebas, jarang timbul kesepakatan. Tidak bersedia berbagi informasi, persaingan tidak sehat, kebersamaan tidak efektif. Tidak memercayai pasangan.

Waspada Persepsi
  • Lihat keunikan, jangan membandingkan
  • Lihat menyeluruh, jangan sebagian
  • Lihat keunggulan, bukan kekurangan
Waspada Emosi
  • Waspada kondisi pribadi sesaat
  • Hindari evaluasi dan pengambilan keputusan jika sedang dilanda gejolak emosi
  • Hindari rasa SUPERIOR
  • Memuji membuahkan kegembiraan dan membangkitkan semangat bagi yang dipuji
Wapada Perilaku
  • Jangan mengumpat / mencemooh / mengejek
  • Jangan menyakiti
  • Jangan membiarkan hal negatif terjadi
  • Beri perhatian cukup
  • Sempatkan waktu untuk berkomunikasi pada tingkatan paling mendalam (dari hati kehati)
Pesan terakhir, apabila ada masalah dengan pasangan, segeralah selesaikan berdua. Jangan bercerita dengan orang lain terlebih dahulu, apalagi dengan lawan jenis.
Dan bila kita punya masalah, ceritakanlah kepada pasangan, karena tanpa disadari, perselingkuhan berawal dari curhat kita kepada orang lain (terlebih lawan jenis).

Hukum dan Moral Perkawinan

Sedikit banyaknya ini yang masuk diotak gue, dan ada juga salinan dari diktatnya.

Pertunangan kanonik
Ada baiknya pernikahan diawali dengan pertunangan, yang dimaksud disini adalah janji untuk menikah. Sebagaimana kita tau, sekarang ini kan banyak tuh yang udah mau nikah tapi masih lirik sana lirik sini, nah pertunangan inilah cara untuk menghindari hal yang demikian. Makanya ucapan janji harus didasari rasa bertanggung jawab dan kesadaran penuh tanpa paksaan.

Akan tetapi, pertunangan bisa aja dibatalin. Kemungkinan sejalannya waktu ada ketidak cocokan antar pasangan. Ga masalah dan jangan dimasalahkan kalo ini terjadi, karna lebih baik dibatalin daripada dilanjutin tapi ada yang mengganjal. Pertunangan juga sebaiknya bukan alasan untuk nuntut harus menikah, karna ya itu tadi daripada terpaksa mending dibatalin aja kalo ga ada kecocokan.
Tapi pertunangan ga mesti kok, hanya disarankan aja, kalo buat gue sih pertunangan ga usah gede-gedean, cukup keluarga inti dan pasangan saling berjanji akan menikah. Menurut gue sih begitu yah.

Paham Gereja mengenai Perkawinan
  • Perkawinan pada hakekatnya merupakan sebuah perjanjian kasih setia antara seorang pria dengan wanita;
  • Perkawinan dan kodratinya terarah untuk membangun kesejahteraan (tertuju demi kebaikan) suami istri
  •  Perkawinan dan kodratinya terarah pada kelahiran dan pendidikan anak
  • Perkawinan sah antara dua orang yang sudah dibaptis oleh Kristus Tuhan diangkat ke martabat Sakramen; oleh karena sudah berupa sakramen yang mana tanda cinta kasih Allah pada kita dan sudah berjanji disaksikan Allah, masa kita bebas mengingkari..?
Disini romo memberi pesan bahwa pentingnya mengerti tujuan menikah, yaitu membahagiakan pasangan secara penuh dan mendapati kebahagiaan melewati pernikahan. Nikah itu ya untuk mendapatkan kebahagiaan dan membahagiakan pasangan, bukan untuk alasan yang lain. Inget ya.. bahagia.. pake titik

Sifat-sifat Hakiki Perkawinan Katolik
  1. Perkawinan katolik haruslah antara satu orang pria dengan seorang wanita; jadi nih kalo kita pasangan sesama jenis dan mau menikah digereja katolik, tentu aja ga bisa.
  2. Perkawinan Katolik  tidak bisa diceraikan; seorang pasangan dipanggil untuk mencintai pasangannya seumur hidup. Tidak ada cara lebih istimewa selain pentingnya sikap hati-hati dan terus memelihara kehangatan relasi.
Kemaren romo sempet bilang, ga ada wanita yang mau dimadu, jadi jangan sampe deh suami-suami membagi cinta ke yang lain, karna luarnya aja setuju, dalam hati pasti gak. Alasan bercerai karna alesannya KDRT juga salah, harusnya bukan cerai yang diambil, tapi laporkan suami kepolisi. Biar ditindak hukum, kalo bercerai tentu suami ga dapet pelajaran dari tingkah lakunya, dan akan berbuat hal yang sama keistri selanjutnya.

Sahnya Suatu Perkawinan Katolik

Status bebas (tiada halangan nikah)
Sebelum perkawinan diteguhkan haruslah pasti bahwa tiada suatu hal menghalangi peneguhan perkawinan tersebut secara sah dan halal, adapun halangan yang membuat perkawinan tidak sah :
  • Halangan umur; pria harus berumur 16 tahun penuh, sedangkan wanita berumur 14 tahun penuh (kasus gue mah.. udah lewat kejauhan kan umurnya.. jadi sah dooong.. ehehe)
  • Halangan impotensi; harus ada sejak sebelum perkawinan dan bersifat tetap. Seorang pria potens kalau memenuhi 3 syarat, yaitu : alat kelamin bisa ereksi, penetrasi, dan ejakulasi. Seorang wanita dinyatakan potens kalau memiliki liang senggama yang mampu menerima alat kelamin pasangannya yang ereksi. Kalo yang ga masuk kriteria potens, mending membiara aja kali ya. Kenapa hal ini penting, ya itu dia, karena tujuan menikah untuk membahagiakan pasangan jadi hal ini menjadi sangat penting untuk keutuhan pernikahan.
  • Halangan ikatan perkawinan; buat yang sudah pernah menikah, harus ada kepastian hukum bahwa pekawinan terdahulu tidak sah atau telah diputus oleh pihak yang berkompeten.
  • Halangan beda agama; demi keabsahan dibutuhkan dispensasi.
  • Halangan hubungan darah
  • Halangan hubungan semenda, mertua, menantu, anak tiri, ayah/ibu tiri
  • Halangan kelayakan publik; contoh kasarnya adalah ketika masyarakat luas mengetahui kalo kita kumpul kebo (bahasa alusnya apa sih ) ato bisa juga pas ketangkep hansip pada saat berhubungan badan, yang kaya gitu ga bisa langsung saat itu juga dinikahkan secara katolik. (makanya jangan ampe ketauan.. hehehe.. *sesat*)
  • Halangan adopsi
Tata Peneguhan Kanonik
Supaya perkawinan dilangsungkan sah secara katolik, haruslah dilakukan dihadapan pejabat resmi Gereja (Uskup, imam, diakon tertahbis) dan dihadapan 2 orang saksi. Tuntutan ini penting terkait dengan perayaan liturgi perkawinan.

Perkawinan Campur
Yang dimaksud perkawinan campur disini adalah perkawinan campur agama. Gereja Katolik memberi kemungkinan karena membela dua hak asasi, yaitu hak untuk menikah dan hak memilih pegangan hidup (agama) sesuai dengan hati nuraninya

Dua jenis perkawinan campur agama :
  1. Perkawinan campur beda gereja (seorang baptis katolik menikah dengan seorang baptis non-katolik), membutuhkan ijin
  2. Perkawinan campur beda agama (seorang baptis katolik menikah dengan seorang tidak dibaptis), membutuhkan dispensasi
Persyaratan mendapatkan ijin atau dispensasi :
  1. Pihak katolik berjanji untuk setia dalam iman katoliknya
  2. Pihak katolik berjanji untuk berusaha dengan serius mendidik dan membaptis anak yang akan lahir dalam Gereja Katolik
Kalo ada temen-temen yang beda agama dengan pasangannya, lebih baik pikir mateng-mateng dulu sebelum menikah secara katolik. Bukannya disusahkan ato diberatkan dengan persyaratan, tapi ini semua demi keharmonisan rumah tangga kalian. Dan ada baiknya berkonsultasi dengan pastor terlebih dahulu dan cerita apa adanya dengan jujur, pastilah akan diberi jalan keluarnya.

Sekian materi Hukum dan Moral Perkawinan, sedikit kurangnya, inilah kesimpulan yang gue dapet, kalo emang ada kesalahan, bolehlah dikoreksi, karna kesimpulan setiap orang tentu berbeda-beda bukaann…

Salam damai

Pelajaran yang diambil saat KPP

Akhirnya kemaren gue ngerasain yang namanya kursus persiapan perkawinan. Kesan pertama pas dateng.. whuuuiii banyak bener yak, sampe acaranya diadain diaula gereja. Ada sekitar 50an pasangan, berarti sampe 100 orang yang ikut. Dan ternyata buat diparoki cililitan, rekor banget karna peserta yang membludak. Puji Tuhan acara berjalan lancar, tertib dan ga ada yang kabur-kaburan (keliatannya sih gitu).

Materinya lumayan banyak, ampe 2 hari kite disiksa.. pedes dweeh pantat, dari pagi sampe sore. Hari pertama mulainya dari jam 8 sampe jam 3an. Break jam 10 sama jam 12. Hari kedua meski mulainya jam 10, tapi gue dateng tetep jam 8 dan selesai sampe jam 4an (karena sekalian misa).

Hari ke dua gue dateng jam 8 karna kebetulan diminta tolong untuk share soal pernikahan dan cinta katolik. Jadi nih dari KAJ ada yang mo bikin tesis tertang itu, sumbernya  anggota kursus yg agamanya sama-sama katolik.
Ternyata yee.. cuman 9 pasangan yg agamanya sama-sama katolik (dari 50an pasangan). Dan sisanya, berarti 40an pasangan tentunya beda agama. Zaman sekarang emang rada-rada susah ye kalo mo nyari yang seagama, apalagi nyari yang agamanya katolik. Kalo ga rajin-rajin amat ikut kegiatan gereja, lumayan peer dapetnya.
Tapi biar gitu, gue salut loh sama mereka yang memutuskan untuk tetep diagama masing-masing meski sudah menikah, toleransi antar agama pastinya gede. Kalo gue mah udah cemen duluan, ga mau ambil pusing, pokoknya maunya nikah sama yang satu agama, biar ga bikin ribet dan ngeselin orang tua. Dan puji Tuhan sih dapetnya abang (semoga jodoh) yang meski tadinya beda (cuma beda gereja doang) sekarang bisa sama.

Balik ke kpp, kemarin tuh penyampaian materinya bukan sekedar dikasih teori doang, tapi ada juga sharing dari pasutri katolik. Ada yang baru 11 tahun,19 tahun, sampe ada yang udah 40tahun menikah. Seru denger kisah mereka, dan emang bener pernikahan itu tuh ga selamanya indah pasti ada cobaannya, saat kita berhadapan dengan cobaan itu, jangan langsung pergi tapi dihadapi, salah satunya dengan belajar mau merubah diri, dan menerapkan dari materi yang diberikan, terbukti, mereka makin bahagia dan pernikahannya indah.

Banyak pengajaran yang bisa gue ambil buat nanti, dan sengaja gue nulis disini, biar gampang nyarinya. Suatu saat gue pasti butuh, bukan berharap nantinya pernikahan gue penuh dengan cobaan sih, tapi minimal disaat cobaan nanti datang, gue gampang nyari solusinya dan mudah-mudahan datengnya dari tulisan ini.
Ohh yaa.. disini gue cuman mau nulis apa yang gue dapet dari kursus kemaren, bukan mau ngajarin cara berumah tangga yang baik. Yaaaah nikah aja belum, masa mo ngasih tau gimana caranya bikin rumah tangga yang harmonis sih.

Dan meski ini dari ajaran gereja katolik, gue rasa materi ini bisa dipakai untuk semua pasangan, karena isinya ga melulu soal agama, dan ga terpatok sama keagamaan juga.
Karena materinya juga banyak, maka gue tulis satu posting, satu materi, jadi kalo ada yang mo baca tinggal diklik aja deh, semoga bermanfaat :
  1. Hukum dan Moral Perkawinan
  2. Komunikasi Suami Istri
  3. Panggilan Menjadi Orang Tua
  4. Ekonomi Rumah Tangga
  5. Seksualitas Perkawinan
  6. Spiritualitas Perkawinan.
Oh ya, masih ada 1 sesi lagi minggu depan, ga tau acaranya apa, yang jelas kita disuruh ngadep pastor, mungkin akan ditanya-tanya kali ye.. yah nanti gue share lagi deh.

Jadi nih kesimpulan gue setelah ikut kursus kemaren, tujuan pernikahan itu ada 2, bahagia dan membahagiakan pasangan. Udah itu aja, pake titik. Jadi kalo ada yang bilang menikah untuk ngedapetin keturunan, itu jelas salah, karena kalo nanti kita ga bisa punya keturunan berarti pernikahannya gagal dong, dan bisa timbul perceraian.
Di agama katolik ga ada istilah perceraian, makanya meski nanti ga punya keturunan *amit-amitketokmeja* pernikahan kita tetep langgeng (diharapkan) karena tujuan awal menikah hanya ingin bahagia.
Emang kedengeran aneh ya.. tapi ya itulah, menikah itu untuk bahagia. Bukan buat dapet keturunan ato biar ga sendirian. Menikah itu untuk ngebahagiain pasangan, duuh kebayang ga sih kita dan pasangan saling membahagiakan.. pasti indah kan.

Jadi nih, urutan pertama yang diprioritaskan dalam pernikahan nantinya adalah pasangan, habis itu barulah anak, keluarga dan pekerjaan. Kenapa bukan anak yang jadi prioritas, ya karna tujuan menikah itu kan membahagiakan pasangan, tapi bukan berarti anak dilupakan, itu sih ga mungkin ya.. karna dengan saling membahagiakan pasangan, otomatis anak juga dipikirkan doong, keluarga juga, begitu juga dengan kerjaan.

Logikanya begini, saat anak kita sakit ato baru aja lahir, biasanya yang capek istri sendirian. Kalo aja suaminya paham akan tujuan pernikahan, maka dia ga pake disuruh, pasti bangun sendiri, minimal gentian jaga, ga akan mungkin  dia enak-enakan tidur, karna suami pasti ga akan tega ngeliat istrinya capek sendirian.
Begitu juga istri, karna tau besok suaminya bakal bangun pagi buat kerja, pasti malah disuruh tidur, takutnya kalo kurang tidur nanti sakit, ato kebalikannya, sisuami nyuruh istri yang tidur, karna ngeliat si istri belom istirahat. Jadi disini kedua S-I saling menjaga, kalo udah begini, anak sehat, pasangan juga sehat thoo..

Mudah-mudahan gue sama abang bisa menerapkan ini semua, dan gue yakin kita bisa, karna kalo dilihat dari setiap pertanyaan di sesi akhir, jawaban kita 95% isinya sama dan matching satu sama lain. Padahal ditulis dikertas berbeda dan ga pake nyontek. Jawaban kita juga paling simple dan ga banyak penjelasan, ya karna emang ga harus dijelasin, tapi dijalanin.

Malah menurut gue ada banyak materi yang isinya sama kaya yang abang sering omongin kegue. Biasanya sih nasehat kalo gue lagi ngambek dan minta putus, yaah kurang lebih intinya samalaah..
Jadi nih, kalo ada pasangan katolik yang lagi bermasalah, ingin bercerai ato alasan lainnya, coba deh, buka-buka lagi materi waktu ikut kursus. Kalopun catetannya udah ilang, jangan takut sekarang kan setiap paroki ada yang namanya M.E ato Marriage Encounter, sering-sering deh ikutan acaranya. Mudah-mudahan masalah bisa diatasi. Yang penting diinget adalah, kita menikah atas dasar cinta, bukan yang lain. Jadi kalo cinta itu sudah hilang pasti ada yang salah disana. Kecuali.. kalo kita menikah dengan atas dasar lain-lain, kemungkinan besar untuk rujuk ya memang agak susah pastinya

Yang jelas kemaren itu sedikit banyak kegampar sama para pembicara, abis kelakuan gue kaya lagi dibacain gitu sama mereka, dan pas nengok kekiri... eh siabang lagi senyam senyum kemenangan   

April 11, 2013

Persyaratan KPP ato Kursus Persiapan Perkawinan

Selama tiga hari nanti (13, 14, 21 april ) gue sama abang bakal ikutan kursus persiapan perkawinan ato lebih pendeknya disebut kpp. Belom tau sih apa yang dipelajarin (nanti bakal gue share), yah ikut aja kita mah, lagian kursus ini emang salah satu persyaratan kalo mau menikah secara katolik. Dan untuk bulan april ini, di wilayah jakarta timur kebetulan diadainnya di paroki cililitan.

Sekedar info, ini lho persyaratan untuk ikut kpp :

 1. Pas foto ukuran 3x4 masing-masing sebanyak 3 lembar
 2. Bayar uang pendaftaran 200ribu (data terbaru 2014 = 300rb/pasang)
 3. Isi formulir dong yah tentunya.

Udah itu aja, ga perlu pake surat pengantar ketua lingkungan, wilayah ato paroki. Tapiii kalo kursusnya diluar wilayah paroki asal, ya kudu minta surat pengantarnya. Misalnya gue kan aslinya paroki jakarta timur, yaa kursusnya kudu diwilayah jakarta timur, tapi boleh-boleh aja kursus digereja manapun, asal minta surat pengantar dari gereja asal kita.

Pendaftaran kemaren juga agak bikin peer deh. Masalahnya kan kita nunda-nunda terus tuh, jadinya pas tau kalo udah mau tutup, jadi jumpalitan juga.. hehehe.. kebiasan menunda emang ga baik yah.

Padahal kalo dikerjain cepet, padahal juga siabang selalu lewatin itu gereja. Tapi yang namanya jago nunda, yaaaa... gitu deh.
Sebenernya sih bukan 100% salah kita juga sih, kalo kita lewat daerah situ, pasti ada aja yang ketinggalan, entah uangnya, entah fotonya (padahal nih foto bisa nyusul pas hari H nya). Trus sekalinya kita udah bawa semua persyaratannya.. eeeehh orang yang bertugas lagi libur. Dan yang gantiin ga mau terima uang pendaftaran, jadilah cuman ngisi formulir aja..

Untungnya pas detik-detik penutupan, hari selasa kemaren, gue pas kebetulan nelpon kesana, nanya petugasnya masih libur apa ga. Ternyata orangnya udah masuk, ehtapiii dia bilang pendaftaran terakhir ditunggu sampe jam 1 siang aja. Whhhhaaaaaatt... dan yang dianggap ikut adalah yang udah bayar uang pendaftaran, meskipun kita udah isi formulir, kalo belom bayar, dianggap bataaaalll... #sebel

Resenya yang harus pergi ya cuma gue, si abang ga bisa kesana, ga keburu waktunya, mau nyuruh orang lain, ga enak, karna udah janji sama diri sendiri, kalo urusan sepele gini, pengennya gue sama abang aja yang ngerjain, kalo bisa ga ngerepotin orang.
Untungnya si boss besar lagi keluar negri, jadi rada tenang deh, ga takut dicariin.
Akhirnya gue kesana sendirian (ya mau sama siiapaaah kamuu) untungnya ga macet, jadi bisa tepat waktu dan langsung bayar trus balik lagi kekantor, eh ga langsung pulang sih, nunggu abang dulu biar sekalian makan siang bareng. Meski terburu-buru, tapi gue seneng, soalnya udah lama nih ga makan siang bareng..*kesian* hehe